Home » » Kisah Sebatang Korek Api

Kisah Sebatang Korek Api

Written By Satria Adhi on Sunday, August 18, 2013 | 3:24 AM

Api bisa jadi, salah satu temuan manusia paling bermanfaat. Memasak, misalnya, membutuhkan api. Dan memasak adalah cara utama manusia mengolah pangan. Saat ini api gampang di dapat. Korek api berbahan bakar gas yang praktis ada di mana-mana. Atau korak api batang yang murah dan sederhana.
Korek api batang ini sangat sederhana digunakan dan aman. Tinggal menggesekan kepala batang (yang biasanya cokelat tua) dengan sisi korek. Sesaat terjadi percikan api dan blum! Muncul nyala yang membakar batang kayunya.
Ada pula jenis korek api yang bisa digesekan pada segala jenis permukaan. Ujung korek api jenis ini tidak perlu digesekan ke sisi kotak. Asal ada permukaan yang agak kasar, bisa digesekan, dan nyala api muncul.
Korek api batang ini dipakai sejak sekitar seabad lalu. Sebelumnya, ahli kimia berusaha menemukan korak api yang aman, tapi hasilnya berbeda-beda. Sebelumnya lagi, orang membuat api dari percikan api dari dua batu.

Permukaan gesek
FOSFOR MERAH DAN BUBUK KACA
Fosfor merah adalah zat yang tidak gampang terbakar. Yang gampang menyala adalah fosfor putih. Dengan hanya terkena oksigen di udara, fosfor putih langsung terbakar. Karena tidak mungkin menempelkan fosfor putih-yang langsung terbakar-dipakailah fosfor bentuk lain, yakni fosfor merah.
Fosfor merah bisa menjadi fosfor putih jika dipanaskan. Panas ini didapat dari gesekan pasir dan bubuk kaca saat batang korek digesekan.

Kepala korek api
BELERANG DAN BUBUK KACA

Belerang adalah zat yang mudah sekali dijalari api, seperti minyak. Saat api fosfor merah menyambar, belerang dengan cepat berubah menjadi api. Api menjalar ke batang korek. Pada jenis yang bisa digores  di permukaan apa saja, kepala korek api juga diberi fosfor merah. Pada jenis ini, kepala korek api terdiri atas dua warna. Korek ini relatif lebih berbahaya sehingga dilarang dibawa dalam pesawat terbang disbanding jenis yang mesti digores ke sisi kotak.

0 comments:

Post a Comment